11Apr
Written by Diabetes Indonesia. Posted in Artikel
Semakin banyaknya bukti tentang berbagai fungsi prolaktin disamping peranan yang telah diakui dalam laktasi, telah menyebabkan peningkatan studi untuk mempelajari efeknya terhadap diferensiasi sel Islet, modulasi imun, dan kontrol sel adiposit. Identifikasi reseptor PRL pada berbagai jaringan target telah meningkatkan riset dan ketertarikan pada efek patofisiologis dari hormon tersebut ke berbagai sistem organ. Kadar PRL serum yang tinggi pada kondisi fisiologis telah ditemukan mampu melindungi dari diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Sebaliknya, tingginya kadar hormon pada kondisi patologis justru meningkatkan risiko DMT2. Studi seluler saat ini membuktikan bahwa aktivitas PRL sel beta pankreas mampu menurunkan ambang glukosa untuk sekresi insulin melalui berbagai jalur. Meta analisis terkini telah menunjukkan bahwa kadar PRL lebih tinggi dalam batas normal mengurangi risiko prevalensi DMT2 namun tidak pada insidensi DMT2, artinya meninggalkan bukti yang terbatas pada hubungan kausalitasnya.